ada banyak cerita yang ingin saya tulis di sini.
tapi untuk saat ini, mungkin hanya ini yang ingin saya ceritakan.
MINGGU, 1 JUNI 2014
Pagi itu, entah kenapa saya malas sekali untuk meninggalkan rumah. Beberapa teman mengirim sms, mengajak diskusi seputar dunia kampus, ya dunia, tapi juga akhirat karna itu amanah saya saat ini. Biasanya saya langsung minta ijin, tapi entah mengapa ketika sarapan dan melihat bapak sakit, saya urung meminta ijin, dan memilih di rumah.
Saat itu bapak mengeluh sakit di dada sebelah kirinya. Mamah ngajak bapak buat ke dokter, khawatir jantung, kalau jantung kan kita belum punya obatnya, karna bapak ga punya penyakit jantung (tiap bulan ada check up kesehatan di kantor bapak). Seperti biasa, bapak agak susah kalau diajak ke rumah sakit, kata mamah, bapak memang nggak suka di rawat di rumah sakit semenjak pernah dirawat karna tifus :)
Tapi kali ini bukan karna tipus. Bapak tetap tidak mau ke dokter, bapak bilang kalau bapak juga diare, khawatir nanti BAB di jalan, malu. (Duh, bapak :) ). Terus kata mamah, gak apa-apa, nanti juga di rumah sakit kan ada toilet. Akhirnya setelah dibujuk sekian lama, bapak mau juga ke rumah sakit, di anter pak darmo (tetangga deket rumah). Dari rumah ke mobil, bapak masih kelihatan sehat, jalannya juga cepat seperti biasanya, dan tidak dipapah.
Beberapa puluh menit kemudian, dada saya berdebar lebih cepat. Akhir-akhir ini memang sering seperti itu, seperti ada sesuatu yang saya khawatirkan, entah apa. Tetiba Mamah Uwi nangis dan terdengar sampai rumah.
Teteh saya langsung ke bawah, "Ada apa, dek?"
"Nggak tau teh. Kenapa ya? Ada kehilangan uang gitu?"
Teteh saya langsung nelpon pa darmo, nanyain keadaan bapak. Entah apa kata pak darmo, tapi sepertinya pak darmo hanya bilang ke teteh untuk tenang aja. Lalu beberapa tetangga dateng ke rumah, manggil teteh. Teteh keluar, Bu Ai langsung meluk teteh dan teteh nangis. Ada apa?
Bapak saya udah meninggal.
Satu yang saya yakini saat itu, saya udah sering banget ngebayangin hal ini ketika saya dibonceng bapak sampai setengah perjalanan menuju kampus, saya tau ini takdir Allah dan saya nggak boleh terlalu larut dalam kesedihan. Walau tangan saya dingin dan gemeteran, saya langsung ke kamar dan nelpon kakak saya.
"Ya, iya ke rumah ya"
"Iya ade, iya ke rumah da nanti, ini habis belanja. emang kenapa?"
"Yah iya pokoknya ke rumah aja"
"Iya, iya ke rumah. tapi kenapa? ada apa?"
"Ke rumah dulu aja"
"Iya, kenapa? mamah sakit?"
"Engga, bapak meninggal"
Kakak saya langsung nangis dan Jabier (anaknya kakak saya, 1th) juga ikut nangis. Saya yang tidak ingin nangis, akhirnya nangis juga. Ah, saya nggak boleh nangis! Akhirnya saya dibantu tetangga-tetangga beres-beres rumah, mindahin kursi ke luar dlsb. Pokoknya nggak boleh diem.
Seharian itu saya berusaha untuk nggak nangis dan nyibukin sama hal-hal lain.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, kami dikumpulkan dengan tetangga-tetangga yang begitu baik, dari dulu memang sangat baik dan kami sudah seperti saudara. Mereka ikut bantuin segala urusannya. Saudara saya juga dateng, yang di Bandung, Jakarta, Cirebon, pokoknya pada dateng ke rumah. Temen saya juga dateng, temen SD, SMP, SMA, kuliah. Malah ada yang nyasar, duh maaf yaaaah :'(
Jenazah bapak disholatkan di Masjid Nurul Iman (dekat rumah), alhamdulillah banyak yang menyolatkan dan mengantar ke makam. Saya juga ikut ke makam.
SENIN, 2 JUNI 2014
Hari ini saya harusnya ke kampus karna hari ini UAS pertama. Alhamdulillah setelah saya hubungi dosennya, dosennya mengijinkan saya untuk mengikuti ujian susulan. Ah, teman saya yang kemarin ke rumah bagaimana? :'(
Semoga UASnya lancar.
Oh iya, saya juga dapet kiriman voicenote (atau apa namanya) dari Alfa via WA, teman sebangku saya yang sedang kuliah di Turki (Aku udah liat filmnya 99 Cahaya di Langit Eropa fa, Turki indah banget ya. Oh iya Erdogannya juga keren). Aaaah dia selalu bisa bikin meleleh. Sekarang dia lagi di Bandung sampai september, tapi kita belum ketemu ya. Maafkan :(
SELASA, 3 JUNI 2014 - dst
UAS hari ini tidak ada susulan, artinya mau tidak mau, siap tidak siap, saya harus menyiapkan diri saya supaya siap untuk UAS.
Ada yang beda dengan UAS kali ini, saya merasa saya lebih nggak PD dibanding UAS-UAS sebelumnya. Tapi akhirnya saya bisa melewatinya. Terimakasih teman-teman yang sudah sangaaaaaaat membantu saya, minjemin rangkuman, dlsb. Bahkan ada yang ngebantuin bikin tugas #eh (jangan ditiru) :(
Alhamdulillah, IP saya naik, tapi IPK turun 0,1, karna jumlah SKS yang boleh dikontrak = paling sedikit diantara semester yang lain. Tapi tetap bersyukur. Bersyukur sekali. Terimakasih untuk support dan do'anya dari teman-teman dan keluarga.
MENCARI KESIBUKAN?
Setelah kuliah beres, saya mulai mellow, galau nilai UAS, galau organisasi, galau galau galau.
Kemudian saya mencari kesibukkan lain... Ya, organisasi sudah pasti, tapi memang sebelumnya pun sudah menjadi rutinitas, dan memang ada beberapa amanah yang harus saya segera tunaikan; lalu pilpres dan berita-berita menarik yang entah mengapa tidak berhenti-henti datang silih berganti. Membuat saya betah baca dan baca.
Di pertengahan Ramadhan saya sakit. Panas saya tinggi sampai ngerasa pusing banget banget banget. Sempat turun. Tapi akhirnya naik lagi dan sempat muntah. Akhirnya ke dokter karna khawatir DBD. Kata dokter, panasnya itu dari radang (bukan radang tenggorokan) dan gejala tipus. Tapi nggak usah dirawat, tapi harus banyak istirahat.
Dari situ saya semakin kacau, semakin nggak karuan, semakin aneh, semakin semakin semakin.
Mungkinkah sampai sekarang?
Saya sudah berusaha supaya tidak terlalu larut dan menikmati kekacauan tersebut dengan kembali menunaikan amanah saya. Tapi apakah itu pelarian?
Mungkin bukan pelarian, saya menikmati rutinitas ini.
Tapi akhirnya saya sakit lagi, radang tenggorokan dan flu. Membuat amanah saya terbengkalai. Amanah sebagai anak, amanah sebagai kakak bagi adik2 di organisasi, amanah sebagai koordinator sebuah acara yang lumayan penting dlsb.
Saya sadar bahwa sakit saya ini bermula karna saya dzolim pada diri saya sendiri. Tidak memperhatikan kesehatan saya dan hak-hak lainnya.
Akhirnya saya deactive facebook saya, karna saya merasa dunia sosial itu sedang menarik-menariknya bagi saya, entah mengapa informasi dari orang-orang disekitar saya begitu menarik.
Saya juga kangen bapak.
Bapak yang sangat perhatian pada kami, sangat pintar mencairkan suasana, sangat rapi, sangat telaten, sangat peduli pada semua orang.
Banyak yang ingin saya ceritakan tentang bapak.
Tentang perjuangan beliau menafkahi kami.
Tentang prestasi-prestasi beliau selama bekerja di PT.DI.
Dan masih banyak lagi.
Hal-hal yang tidak ingin saya lupakan tentang bapak:
1. Bapak memang tertutup, tapi bapak pernah memarahi saya tentang banyak hal
2. Bapak memang tertutup, tapi bapak pernah menasehati saya tentang banyak hal
3. Bapak sering menggendong saya (waktu kecil) dan memindahkan saya ke lantai atas karna ketiduran nonton tv
4. Bapak pernah mencium saya ketika saya pura-pura tidur sehabis nangis karna dinasehati bapak tentang hal yang sebetulnya tidak saya lakukan, dan beliau minta maaf. Aaaah :'(
5. Bapak sering nganterin saya kuliah (mulai dari rumah sampai kampus, rumah sampai borma, rumah sampai patung husein, dlsb) karna terkadang saya telat walau sepagi apapu saya berangkat dengan angkot karna dosennya sudah hadir sebelum jam masuk kuliah.
6. Bapak sering menyapa orang-orang di komplek ketika kami pergi bersama
7. Bapak sayang sekali pada cucu pertamanya, Jabier. Dan Jabier pun sayang sekali pada Abahnya ini. Sampai sekarang Jabier suka manggil-manggil Abah. Bapak punya rekaman di hpnya saat main sama jabier, insyaAllah nanti saya upload di youtube :')
8. Bapak suka bilang, 'kata bapak mah Prabowo yang menang da' sebelum bapak meninggal, saat itu saya belum pilih siapa-siapa. Dan akhirnya saya juga suka. Bapaklah salah satu alasan saya tertarik pada beliau, alasan lainnya karna beliau didukung para ulama. Tapi akhirnya pak prabowo nggak menang pak, tidak apa-apa pak. Semoga ini memang yang terbaik, semoga meringankan beban saya, bapak dan teman-teman lain yang telah mempercayakan negeri ini pada beliau ketika di akhirat nanti.
9. Bapak punya satu buku catatan tentang komputer, tetangga dan teman-teman kantornya selalu menelpon ke rumah atau datang ke rumah kalau ada masalah tentang komputer. InsyaAllah akan saya share di blog ini, walau mungkin tidak semua ilmu bapak ada di situ.
10. Bapak yang menginspirasi dan memotivasi saya untuk 'mencicipi' rasanya tinggal di negeri orang. Bapak sudah ke spanyol, amerika dan jerman ketika saya kecil, bahkan sebelum saya lahir. Yup, bapak pergi karna tugas kantornya :) Entah saya ditakdirkan untuk ke luar negeri atau tidak, dan entah masih ingin atau tidak. Ah kalau Mekah sih pasti pingin :')
11. Bapak punya banyaaaaaaak sekali teman. Kata teman-temannya beliau ini suka ngebodor dan sering kasih nasehat kalau juniornya di kantor pada nggak semangat kerja. Ya, bapak juga selalu membuat kami tertawa :)
12. Bapak suka sekali main games, tapi beberapa bulan terakhir bapak seringnya main facebook untuk silaturahim dan ngerjain tugas kantor
13. Bapak sering menjemput saya ketika saya pulang kemaleman atau ketika bawaan saya dari kampus sangat banyak.
14. Bapak sudah berhenti merokok sebulan sebelum beliau wafat
15. Bapak suka bilang ke mamah: bapak ingin meninggal seperti bapaknya (kakek saya). Benar, beliau wafat seperti kakek saya. Meninggalnya tidak menyusahkan kami, beliau pergi dalam keadaan yang sangat bersih dll.
16. Sebelum meninggal, bapak keliling kantor untuk bayar hutang-hutangnya. Dan seperti memberikan pertanda bahwa beliau akan 'pulang' pada teman-teman kantornya. Sayangnya kami tidak pandai membaca situasi :')
17. Sebelum meninggal, bapak rajin bersih-bersih kamar belakang (tempat bapak kerja, main games dll). Sayangnya kami tidak pandai membaca situasi :')
Dan masih banyak hal yang ingin saya ceritakan tentang bapak.
Intinya bapak itu adalah...
anak yang baik bagi orangtuanya yang melahirkannya
anak yang baik bagi paman dan bibi yang merawatnya
adik yang baik bagi kakak-kakaknya
kakak yang baik bagi adik-adiknya
ayah yang baik bagi anak-anaknya
kakek yang baik bagi cucu-cucunya
teman yang baik bagi orang-orang disekelilingnya
semoga bapak adalah hamba yang baik di hadapan Allah
Mohon do'anya. Mohon do'anya untuk bapak saya, Slamet Haryanto rahimahulloh...
Bagi teman-teman bapak yang mungkin mengenal bapak dan sudah lama tidak bertemu dengan bapak, mohon dimaafkan segala kesalahan bapak.
Apakah akhir-akhir ini saya hanya sedang mengalihkan perhatian saya untuk menutupi kesedihan dan kekosongan saya?
Jika iya maka saya tidak boleh mengalihkannya. Sedih ya biarkan sedih, biarkan saya larut dalam kesedihan dan kemudian mengobatinya. Hmm, bukankah kekacauan saya akhir-akhir ini merupakan luapan kesedihan saya? Kalau begitu sekarang tahap pengobatan. Wake up. Move on!
Saya harus berbenah...
Cukup untuk kekacauan yang saya ciptakan untuk diri saya sendiri akhir-akhir ini.
Saya sebal dengan diri saya yang akhir-akhir ini sangaaaaaaaaaaaat menyebalkan sekali, sudah cukup.
Perbaiki diri, lakukan yang terbaik. Lillah.
Showing posts with label i'm proud to be muslim :). Show all posts
Showing posts with label i'm proud to be muslim :). Show all posts
0
cinta
adikku, apakah kau sedang jatuh cinta?
jangan takut, karna cinta itu adalah fitrah setiap manusia.
tidak perlu mengelak karna cinta itu adalah suara hati.
hanya perlu kau dengarkan maka perlahan kau akan menikmatinya.
nada itu indah, sayang.
tapi kau harus hati-hati.
cinta bisa membuatmu bahagia, dan disisi lain cinta bisa membuatmu bersedih.
jangan takut, karna tidak ada kebahagiaan yang abadi juga kesedihan yang abadi.
semuanya butuh proses.
hanya perlu kau pahami agar kelak kau menjadi lebih dewasa.
adikku, cinta itu tak perlu berbalas.
tak perlu kau nyatakan perasaanmu secara gamblang, karna itu hanya akan menodai izzahmu.
cukuplah hanya kau dan Allah yang tahu.
bukankan lebih menarik ketika kita punya rahasia?
coba ingat masa kecil kita, sayang.
ketika dia tidak ditakdirkan untukmu, jangan takut.
kau tentu ingat janji Allah,
"dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)".
masih ada dia yang menunggumu, sayang.
kau hanya perlu menjaga izzah dan iffahmu, jangan sampai kau terjebak pada cinta yang dangkal.
bukankah kau menunggu laki-laki yang baik itu?
mmm sebenernya pesennya masih banyak. lebih banyak dari itu.
cuma saya ngga bisa nyampein lewat kata2...
makasih kakakku, membuat aku sadar dan berpikiran luas, bahwa hidup bukan hanya tentang mencintai dan dicintai.
begitu banyak yang harus saya pelajari tentang kehidupan, dan cinta hanyalah sebagian kecil darinya.
masih banyak yang harus saya lakukan.
dan cinta, mencintai, atau dicintai, mungkin belum saatnya aku memikirkannya.
terlalu cepat. masih banyak yang perlu kubenahi..
ya, masa depan...
hamba mohon yang terbaik, ya Allah...aamiin
Ramadhan bentar lagi beres :(
Ramadhan bentar lagi beres kawan. berapa persen target kalian yang kesampean?
hmmm aku rasa, Ramadhan tahun ini aku belum maksimal. Terlalu sering aku beralasan.
Waktu awal2 Ramadhan, mungkin kalian udah tau, aku flu, pertamanya sih batuk doang, tapi sumpah batuknya tuh ngga enaaaak banget, susaaaah banget batuknya tuh, sampe sesek.. ah menderita deh pokoknya. sampe suatu malem, aku batuk daaan.... darah. dikit sih, cuma ya... darah gitu loh! (ah alay - ya emang alay ==")
Belum beres penderitaan aku bersama si batuk, eh si pilek ikut-ikutan menyerang. aksinya pun luar biasa, membuat hidung saya mampet setiap malem dan seringnya tuh dua-duanya mampet, nahlo. ah ngga enak deh pokoknya.. =="
Dan sakit yang biasa (saya katakan biasa karna ini tuh bukan sakit berat, ya kan?) itu membuat saya beralasan untuk males ngapa-ngapain (jangan dicontoh ya adik adik :-P)
okay kembali ke jalan yang lurus. Ramadhan bentar lagi beres, itu artinya ngga akan ada lagi tarawih, kuliah subuh, i'tikaf, tadarus subuh, tajil (haha), buka puasa bareng, dll.
tapi sebenernya intinya ramadhan itu apa sih? Kata Murobi aku, sebenernya bukan hanya di bulan Ramadhan saja kita berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan. Ujian sebenarnya tuh bukan di bulan Ramadhan, tapi di bulan-bulan sesudahnya. Yaitu, bagaimana kita menjaga amalan-amalan kita selama bulan Ramadhan agar tetap terjaga. Kasarnya mah gini deh, baik tuh jangan cuma bulan Ramadhan aja, ya memang bulan Ramadhan itu bulan suci, bulan dimana sekecil apapun amalan kebaikan yang kita lakukan akan dilipat gandakan, tapi akan lebih baik kan kalo amalan-amalan yang kita lakukan selama bulan Ramadhan tsb senantiasa kita lakukan selama bulan-bulan sesudahnya.
(ah si ucha ngomong apa sih ==" maap deh kalo ngga ngerti)
oia rada mengkol dari judul. pernah ngerasa ngga kalo keimanan kita itu naik-turun? kadang kita tuh ngerasa lebih baik dari kemarin, tapi kadang besoknya kita ngerasa lebih buruk dari kemarin...
mau share ilmu aja, menurut pa aam (percikan iman yang subuh2 tea)
ayo kawan, aku juga masih banyak salah, mari kita perbaiki! :O
untuk semuanyaa...
hmmm aku rasa, Ramadhan tahun ini aku belum maksimal. Terlalu sering aku beralasan.
Waktu awal2 Ramadhan, mungkin kalian udah tau, aku flu, pertamanya sih batuk doang, tapi sumpah batuknya tuh ngga enaaaak banget, susaaaah banget batuknya tuh, sampe sesek.. ah menderita deh pokoknya. sampe suatu malem, aku batuk daaan.... darah. dikit sih, cuma ya... darah gitu loh! (ah alay - ya emang alay ==")
Belum beres penderitaan aku bersama si batuk, eh si pilek ikut-ikutan menyerang. aksinya pun luar biasa, membuat hidung saya mampet setiap malem dan seringnya tuh dua-duanya mampet, nahlo. ah ngga enak deh pokoknya.. =="
Dan sakit yang biasa (saya katakan biasa karna ini tuh bukan sakit berat, ya kan?) itu membuat saya beralasan untuk males ngapa-ngapain (jangan dicontoh ya adik adik :-P)
okay kembali ke jalan yang lurus. Ramadhan bentar lagi beres, itu artinya ngga akan ada lagi tarawih, kuliah subuh, i'tikaf, tadarus subuh, tajil (haha), buka puasa bareng, dll.
tapi sebenernya intinya ramadhan itu apa sih? Kata Murobi aku, sebenernya bukan hanya di bulan Ramadhan saja kita berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan. Ujian sebenarnya tuh bukan di bulan Ramadhan, tapi di bulan-bulan sesudahnya. Yaitu, bagaimana kita menjaga amalan-amalan kita selama bulan Ramadhan agar tetap terjaga. Kasarnya mah gini deh, baik tuh jangan cuma bulan Ramadhan aja, ya memang bulan Ramadhan itu bulan suci, bulan dimana sekecil apapun amalan kebaikan yang kita lakukan akan dilipat gandakan, tapi akan lebih baik kan kalo amalan-amalan yang kita lakukan selama bulan Ramadhan tsb senantiasa kita lakukan selama bulan-bulan sesudahnya.
(ah si ucha ngomong apa sih ==" maap deh kalo ngga ngerti)
oia rada mengkol dari judul. pernah ngerasa ngga kalo keimanan kita itu naik-turun? kadang kita tuh ngerasa lebih baik dari kemarin, tapi kadang besoknya kita ngerasa lebih buruk dari kemarin...
mau share ilmu aja, menurut pa aam (percikan iman yang subuh2 tea)
sebetulnya itu tuh alamiah. wajar. iman itu memang adakalanya naik dan adakalanya turun. yang penting adalah bagaimana kita menjaga agar iman itu tidak berada di tempat paling bawah.nah itu dia. bagus kalo Ramadhan kali ini kalian menjadi lebih baik dari bulan-bulan sebelumnya. tapi tidak buruk kan kalau yang baik-baik itu terus kalian lakukan beberapa bulan kedepan? tidak usah memaksakan untuk 'lebih', semampu kita aja, karna amalan ibadah yang dicintai Allah itu yang sedikit tapi dilakukan terus menerus.
ayo kawan, aku juga masih banyak salah, mari kita perbaiki! :O
manusia itu tempatnya salah dan lupa. tapi manusia yang baik adalah yang senantiasa memperbaiki kesalahannya.kalau soal lupa sih, gimana ya, tergantung tekad sih itu mah, kalau kitanya emang niat untuk ngga lupa sih insyaAllah, dengan pertolongan Allah kamu ngga akan lupa. ya sering2 aja ngapalin al-qur'an, itu sih saran guru-guru agama hehe..
untuk semuanyaa...
HAPPY EID MUBARAK 1432 H
TaqabalAllahu Minna Wa Minkum, siyaamana wa siyaamakum
May we live to see the next Ramadan, aamiin.
sms dari syifa :)
Aslm, 50 hari lagi ramadhan ukh.. Apa yang sudah kita persiapkan?? Ya Allah, sampaikanlah kami di bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah.. Ana uhibbuki fillah.aamiin. ana uhibbu fillah, ukhtii :O
aku ingin dicintai karena Allah :)
Jika kau mencintaiku kerana sifatku yang ceria
Menjadi semangat yang menyala di dalam hati mu
Kemudian aku bertanya
Bila keceriaan itu kelam dirundung duka
Jika kau mencintaiku karena kecantikanku
Menyejukkan setiap mata yang memandangnya
Kemudian aku bertanya
Saat kecantikan itu memudar ditempuh usia
Seberapa pudarkah kelak cintamu padaku?
Jika kau mencintaiku karena ramah hatiku
Memberi kehangatan dalam setiap sapaanmu
Kemudian aku bertanya
Kiranya keramahan itu tertutup kabut prasangka
Seberapa mampu cintamu memendam praduga?
Jika kau mencintaiku karena cerdasnya diriku
Membuatmu yakin pada putusanku
Kemudian aku bertanya
Ketika kecerdasan itu berangsur hilang menua
Seberapa bijak cintamu tuk tetap mengharapku?
Jika kau mencintaiku karena kemandirian yang ku miliki
Menyematkan rasa bangga mu yang mengenalku
Kemudian aku bertanya
Jika di tengah itu rasa manjaku tiba menyeruak
Seberapa tangguh cintamu tuk tetap bersamaku?
Jika kau mencintaiku karena tegarnya sikapku
Menambatkan rasa kagum pada kokohnya pertahananmu
Kemudian aku bertanya
Andai ketegaran itu rapuh diterpa badai
Seberapa kuat cintamu bertahan?
Jika kau mencintaiku karena pengertian yang ku berikan
Menumbuhkan ketenangan karena kepercayaan yang ku tanam
Kemudian aku bertanya
Kelak pengertian itu tertelan oleh ego sesaat
Seberapa kau mampu mengerti cinta ini?
Jika kau mencintaiku karena luasnya danau kesabaranku
Menambah dalamnya rasa cinta semakin kau mengenalku
Kemudian aku bertanya
Mungkin kesabaran itu mencapai batas membendung kesalahanku
Seberapa besar cinta mampu memaafkan?
Jika kau mencintaiku karena keteguhan imanku
Bagai siradj yang benderang mengantarkan cahaya
Kemudian aku bertanya
Kala iman itu jatuh menurun
Seberapa berkurang akhirnya cintamu padaku?
Jika kau mencintaiku karena
Ku yang tlah kau pilih sebagai cinta yang kan kau pegang sepanjang hayat
Kemudian aku bertanya
Pun hati ini tergoncang
Seberapa mantap cinta ini tuk tetap setia?
Andai sejuta alasan tak cukup
Untuk membuat cinta ini tetap bersama diriku
Maka biar kupinta satu alasan tuk menjaga cinta ini....
Aku ingin kau cintai karena Allah..
Karena Dia kan selalu ada tuk menjaga
Maka cintaku kan tetap utuh dan setia
Hingga kelak, ku tak mampu lagi mencintaimu
Karena cintaku berpulang pada-Nya..
mencintai ia dalam hening
Duhai gadis, maukah ku beritahukan padamu bagaimana mencintai dengan indah ?
Inginkah ku bisikkan bagaimana mencintai dengan syahdu..?
Maka dengarlah…!
Gadis, Saat ku jatuh cinta..
Tak akan ku berucap..
Tak akan ku berkata..
Namun ku hanya akan diam..
Saat ku mencintai, takkan pernah ku menyatakan.
Tak akan ku menggoreskan..
Yang ku lakukan hanyalah diam..
Aku tahu, cinta adalah fitrah..sebuah anugrah tak terperih..
Karena cinta adalah kehidupan.
Karena rasa itu adalah cahaya.
Aku tahu, hidup tanpa cinta, bagaikan hidup dalam gelap gulita..
Namun.. Saat rasa itu menyapa, maka hadapi dgn anggun.
Karena rasa itu ibarat belenggu pelangi, dengan begitu banyak warna.
Cinta terkadang membuatmu bahagia, namun tak jarang membuatmu menderita.
Cinta ada kalanya manis bagaikan gula,
Namun juga mampu memberi pahit yang sangat getir.
Cinta adalah perangkap rasa..
Sekali kau salah berlaku, maka kau akan terkungkung dalam waktu yang lama dalam lingkaran derita.
Kasihku … , Agar kau dapat keluar dari belenggu itu.
Dan mampu melaluinya dgn anggun..
Maka mencintailah dalam hening.
Dalam diam..
Tak perlu kau lari, tak perlu kau hindari.
Namun juga, jangan kau sikapi dgn berlebihan.
Jangan kau umbar rasamu.
Jangan kau tumpahkan segala sukamu..
Cobalah merenung sejenak dan fikirkan dgn tenang..
Kita percaya takdir bukan?
Kita tahu dengan sangat jelas...
Dia, Allah telah mengatur segalanya dengan begitu rapinya?
Jadi, apa yang kau risaukan?
Biarkan Allah yg mengaturnya,
Dan yakinlah di tangan-Nya semua akan baik-baik saja..
Cobalah renungkan...
Dia yang kau cinta, belum tentu atau mungkin tak akan pernah menjadi milikmu..
Dia yang kau puja, yang kau ingat saat siang dan yang kau tangisi ketika malam,
Akankah dia yang telah Allah takdirkan denganmu?
Kasihku… , kita tak tahu dan tak akan pernah tahu..
Hingga saatnya tiba..
Maka, ku ingatkan padamu, tidakkah kau malu jika smua rasa telah kau umbar...
Namun ternyata kelak bukan kau yg dia pilih untuk mendampingi hidupnya?
Kasihku…, Karena cinta kita begitu agung untuk di umbar..
Begitu mulia untuk di tampakkan..
Begitu sakral untuk di tumpahkan..
Dan sadarilah gadis, fitrah kita wanita adalah pemalu,
Dan kau indah karena sifat malumu..
Lalu, masihkah kau tampak menawan jika rasa malu itu telah di nafikan?
Masihkah kau tampak bestari jika malu itu telah kau singkap..
Duhai gadis, jadikan malu sebagai selendangmu..
Maka tawan hatimu sendiri dalam sangkar keimanan..
Dalam jeruji kesetiaan..
Yah.. Kesetiaan padanya yg telah Allah tuliskan namamu dan namanya di Lauhul Mahfuzh..
Jauh sebelum bumi dan langit dicipta..
Maka cintailah dlm hening.
Agar jika memang bukan dia yg ditakdirkan untukmu,
Maka cukuplah Allah dan kau yg tahu segala rasamu..
Agar kesucianmu tetap terjaga..
Agar keanggunanmu tetap terbias..
Maka, ku beritahukan padamu,
Pegang kendali hatimu..Jangan kau lepaskan.
Acuhkan semua godaan yg menghampirimu..
Cinta bukan untuk kau hancurkan, bukan untuk kau musnahkan..
Namun cinta hanya butuh kau kendalikan, hanya cukup kau arahkan..
Gadis... yg kau butuhkan hanya waktu, sabar dan percaya..
Maka, peganglah kendali hatimu,
Lalu..Arahkan pd Nya..
Dan cintailah dalam diam..
Dalam hening..
Itu jauh lebih indah..
Jauh lebih suci…
Inginkah ku bisikkan bagaimana mencintai dengan syahdu..?
Maka dengarlah…!
Gadis, Saat ku jatuh cinta..
Tak akan ku berucap..
Tak akan ku berkata..
Namun ku hanya akan diam..
Saat ku mencintai, takkan pernah ku menyatakan.
Tak akan ku menggoreskan..
Yang ku lakukan hanyalah diam..
Aku tahu, cinta adalah fitrah..sebuah anugrah tak terperih..
Karena cinta adalah kehidupan.
Karena rasa itu adalah cahaya.
Aku tahu, hidup tanpa cinta, bagaikan hidup dalam gelap gulita..
Namun.. Saat rasa itu menyapa, maka hadapi dgn anggun.
Karena rasa itu ibarat belenggu pelangi, dengan begitu banyak warna.
Cinta terkadang membuatmu bahagia, namun tak jarang membuatmu menderita.
Cinta ada kalanya manis bagaikan gula,
Namun juga mampu memberi pahit yang sangat getir.
Cinta adalah perangkap rasa..
Sekali kau salah berlaku, maka kau akan terkungkung dalam waktu yang lama dalam lingkaran derita.
Kasihku … , Agar kau dapat keluar dari belenggu itu.
Dan mampu melaluinya dgn anggun..
Maka mencintailah dalam hening.
Dalam diam..
Tak perlu kau lari, tak perlu kau hindari.
Namun juga, jangan kau sikapi dgn berlebihan.
Jangan kau umbar rasamu.
Jangan kau tumpahkan segala sukamu..
Cobalah merenung sejenak dan fikirkan dgn tenang..
Kita percaya takdir bukan?
Kita tahu dengan sangat jelas...
Dia, Allah telah mengatur segalanya dengan begitu rapinya?
Jadi, apa yang kau risaukan?
Biarkan Allah yg mengaturnya,
Dan yakinlah di tangan-Nya semua akan baik-baik saja..
Cobalah renungkan...
Dia yang kau cinta, belum tentu atau mungkin tak akan pernah menjadi milikmu..
Dia yang kau puja, yang kau ingat saat siang dan yang kau tangisi ketika malam,
Akankah dia yang telah Allah takdirkan denganmu?
Kasihku… , kita tak tahu dan tak akan pernah tahu..
Hingga saatnya tiba..
Maka, ku ingatkan padamu, tidakkah kau malu jika smua rasa telah kau umbar...
Namun ternyata kelak bukan kau yg dia pilih untuk mendampingi hidupnya?
Kasihku…, Karena cinta kita begitu agung untuk di umbar..
Begitu mulia untuk di tampakkan..
Begitu sakral untuk di tumpahkan..
Dan sadarilah gadis, fitrah kita wanita adalah pemalu,
Dan kau indah karena sifat malumu..
Lalu, masihkah kau tampak menawan jika rasa malu itu telah di nafikan?
Masihkah kau tampak bestari jika malu itu telah kau singkap..
Duhai gadis, jadikan malu sebagai selendangmu..
Maka tawan hatimu sendiri dalam sangkar keimanan..
Dalam jeruji kesetiaan..
Yah.. Kesetiaan padanya yg telah Allah tuliskan namamu dan namanya di Lauhul Mahfuzh..
Jauh sebelum bumi dan langit dicipta..
Maka cintailah dlm hening.
Agar jika memang bukan dia yg ditakdirkan untukmu,
Maka cukuplah Allah dan kau yg tahu segala rasamu..
Agar kesucianmu tetap terjaga..
Agar keanggunanmu tetap terbias..
Maka, ku beritahukan padamu,
Pegang kendali hatimu..Jangan kau lepaskan.
Acuhkan semua godaan yg menghampirimu..
Cinta bukan untuk kau hancurkan, bukan untuk kau musnahkan..
Namun cinta hanya butuh kau kendalikan, hanya cukup kau arahkan..
Gadis... yg kau butuhkan hanya waktu, sabar dan percaya..
Maka, peganglah kendali hatimu,
Lalu..Arahkan pd Nya..
Dan cintailah dalam diam..
Dalam hening..
Itu jauh lebih indah..
Jauh lebih suci…
saat ku jatuh cinta
Allahu Rabbi, aku minta izin
Ketika suatu saat nanti aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya engkau
Allahu Rabbi, aku punya pinta
Ketika suatu saat nanti aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh
Allahu Rabbi, izinkanlah
Ketika suatu saat nanti aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan cinta-Mu
Dan membuatku semakin mengagumimu
Allahu Rabbi
Ketika suatu saat nanti aku jatuh cinta
Pertemukanlah kami
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu
Allahu Rabbi, pintaku yang terakhir
Ketika suatu saat nanti aku jatuh cinta
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku cinta-Mu
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu
Amiiinnn.......
Doa ini ismi Copas dari KUMPULAN DOA-DOA ISLAM SEHARI-HARI..
Dan sebuah doa di bawah saya Copas dari note.a Pa agung purnomo..
Tuhan....
Saat aku menyukai seorang teman
Ingatkanlah aku bahwa akan ada sebuah akhir
Sehingga aku tetap bersama Yang Tak Pernah Berakhir
Tuhan.....
Ketika aku merindukan seorang kekasih
Rindukanlah aku kepada yang rindu Cinta Sejati Mu
Agar kerinduanku terhadap - Mu semakin menjadi
Tuhan.......
Jika aku hendak mencintai seseorang
Temukanlah aku dengan orang yang mencinatai - Mu
Agar bertambah kuat cintaku pada - Mu
Tuhan......
Ketika aku sedang jatuh cinta
Jagalah cinta itu
Agar tidak melebihi cintaku pada - Mu
Tuhan....
Ketika aku berucap aku cinta pada - Mu
Biarlah kukatakan kepada yang hatinya tertaut pada - Mu
Agar aku tak jatuh dalam cinta yang bukan karena - Mu
Sebagaimana orang bijak berucap
Mencintai seseorang bukanlah apa - apa
Dicintai seseorang adalah sesuatu
Dicintai oleh orang yang kau cintai sangatlah beratti
Tapi dicintai oleh Sang Pencinta adalah segalanya
"Ya Allah.. hamba-Mu ini tidak tau mana yang terbaik dalam mengambil pilihan..
Hamba tidak tau perasaan ini dari hati dan keimanan hamba, atau hanya dari nafsu hamba..
Ya Allah ketika perasaan cinta ini datang karena nafsu hamba.. bantu hamba mengalahkannya dengan kekuatan iman ..
Ya Allah bantu hamba merahasiakan perasaan indah ini..
hamba tidak kuat untuk menjaga rahasia tanpa pertolonganMu
Tidak ada daya upaya kecuali dengan pertolongan-Mu
Ya Allah hanya kepada Engkau hamba meminta..
Hamba yakin rencanaMu lah yang terbaik dan terindah
Jadikanlah hamba-Mu ini ahli syukur dan sabar dalam menerima takdir dari-Mu
رَبَّنَااَتِنَافِى الدُّنْيَاحَسَنَةً وَفِى اْلاَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَاالنَّارِ
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan di akherat"
![]() |
| semoga dengan cinta ini.. adalah jalan hamba mendapat cinta-Mu ya Rabb |
![]() |
| cintakanlah hamba pada seseorang yang akan menguatkan keimanan hamba. cintailah hamba pada seseorang yang menempatkan cinta terbesarnya hanya padaMu |
![]() |
| semoga setiap perasaan cinta yang hamba rasakan hanya karena Mu |
![]() |
| Bawalah hamba pada cinta yang menyelamatkan hamba di dunia dan akherat |
Ya Allah kabulkan do'a hamba.. Aamiin
:)
Bismillahirrahmanirrahiim
Afwan Akhi, rasanya aku telah menemukan kekasih yg jauh lbh baik dr dirimu. Yang tak pernah mengantuk dan tak pernah tidur. yang siap terus menerus memperhatikan dan mengurusku. yang selalu bersedia berduaan disepertiga terakhir malam. yang siap memberi apapun yang ku pinta. Ia yang bertahta, berkuasa, dan memiliki segalanya.
Maaf Akhi, tp menurutku kau bukan apa2 dibanding Dia. kau sangat lemah, kecil, dan kerdil dihadapanNYA. Ia berbuat apa saja sekehendakNYA kepadamu. dan akhi, aku khawatir apa yg telah kita lakukan selama ini membuatNYA cemburu. aku takut, hubungan kita selama ini membuatNYA murka. padahal Ia, maha kuat, maha gagah, maha perkasa, dan maha keras siksaNYA.
Akhi, blm trlambat untk bertaubat. apa yg telah kita lakukan selama ini pasti akan ditanyakan olehNYA. Ia bs marah, akhi. marah tentang saling pandang yg pernah kita lakukan, marah krn setitik sentuhan kulit kita yg belum halal itu, marah karena suatu ketika suatu ketika aku hrs membonceng motormu, marah karena pernah ketetapanNYA kuadukan padamu atau ttg lamunanku yg selalu membayangkan wajahmu. Ia bisa marah. tp sekali lg semua belum terlambat. kalau kita memutuskan hubungan ini sekarang, semoga Ia mau memaafkan dan mengampuni. akhi, Ia maha pengampun, maha pemberi maaf, maha menerima taubat, maha penyayang, maha bijaksana.
Akhi, jangan marah yah. aku sudah memutuskan untuk menyerahkan cintaku padaNYA, tidak pada selainNYA. tapi tak cuma aku akhi. kaupun bisa mjd kekasihNYA., kekasih yg amat dicintai dan dimuliakan. Insyaallah Dia punya rencana yg indah untuk masa depan kita masing2. kalau engkau selalu berusaha menjaga diri dari hal2 yang dibenciNYA, kau pasti akan dipertemukan dengan seorang wanita sholihah. ya, wanita sholihah yg pasti jauh lbh baik dr aku saat ini. ia yg akan membantumu menjaga agamamu, agar hidupmu senantiasa dalam kerangka mencari ridha Allah dalam ikatan pernikahan yg suci. inilah doaku untukmu, semoga kaupun mendoakan aku, akhi,..
akhi, aku akan segera menghapusmu dr memori masa lalu yg salah arah ini. tapi, aku akan tetap menghormatimu sebagai saudara dijalan Allah. itulah ikatan terbaik,.. tak mustahil itulah yg akan mempertemukan kita dgn Rasulullah ditelaganya, lalu beliaupun memberi minum kita dgn air yg lebih manis dr madu, lebih lembut dr susu, dan lebih sejuk dr krim beku,..
Maaf akhi,.. tak baik rasanya aku menulis surat ini. aku takut ini merusak hati. goresan pena terakhirku disurat ini adalah doa keselamatan dunia akhirat sekaligus tanda akhir dari hubungan haram kita, Insyaallah.
Wassalam
Teologi Cinta
SEBAGAI lelaki normal, aku sangat mengaguminya. Selain berparas ayu, dia hampir memiliki segala kelebihan yang memang sangat patut dikagumi, terutama oleh para lelaki yang mendambakan kenikmatan cinta yang sejati.
Kalau bicara, tutur katanya halus, lembut, dan indah. Dia hampir tak pernah sekali pun merajuk sebagaimana umumnya gadis-gadis sebayanya. Dia juga tak pernah bermanja-manja kepada siapa saja. Dia pun tak pernah mengumbar emosinya sehingga uring-uringan, marah, memaki, mengumpat, menghina, mencela, dan sebagainya sama sekali tak pernah dia lakukan. Dan, dia juga selalu “on” untuk diajak berbicara tentang apa saja. Dia memang nyaris sempurna sebagai seorang manusia, sebagai seorang gadis, sebagai seorang anak, sebagai seorang sahabat, dan sebagainya. Masya Allah!!!
“Aku sangat mengagumimu dan mencintaimu. Lahir dan batin. Jasmani dan rohani. Hidup dan mati. Dalam suka maupun duka,” kataku berterus terang, dalam suatu kesempatan tatap muka dengannya. “Cinta yang keberapa yang kamu berikan kepadaku?” tanyanya, sambil menyunggingkan sebuah senyum yang amat manis.
“Tentu saja, cinta yang pertama sekaligus terakhir. Cinta yang utama dan segala-galanya. Setitik pun tidak ada cinta yang tertinggal, semua kupersembahkan hanya kepadamu,” jawabku, dengan intonasi serta mimik sangat serius.
“Ah, jangan begitu! Aku justru tidak mau kalau cinta pertama itu kamu berikan kepadaku, apalagi hanya kepadaku. Juga, aku tidak mau kalau kamu menyerahkan segala-galanya kepadaku. Sekali lagi, aku tidak mau cinta seperti itu,” jawabnya, mantap. “Maksudmu?”
“Kamu harus tetap realistis. Kamu harus tetap menempatkan sesuatu pada tempatnya. Jangan menempatkan sesuatu bukan pada tempat yang sebenarnya. Kamu tidak boleh fasik!” tuturnya, lembut namun menyentuh relung hatiku yang terdalam.
“Artinya?”
“Ya, aku hanya manusia biasa yang tak lepas dari cela. Aku bukan manusia sempurna, bahkan, mungkin, sangat jauh dari sempurna. Kalau pun manusia sempurna, aku masih juga belum berhak dan pantas menerima cinta pertama dari siapa pun. Juga penyerahan atas segalanya dari siapa saja, aku tak berhak menerima, dan karena itu aku wajib menolaknya,” jelasnya.
“Lalu…lalu…lalu…?”
“Ya sudah, titik. Tidak boleh lalu, lalu.” “Aku masih belum paham maksudmu”. “Belum paham atau tak mau paham?”
Aku diam. Namun, hatiku bergejolak. Aku penasaran. Ingin rasanya segera mendapatkan jawaban yang melegakan dari dia.
“Kamu orang beragama kan?” tanyanya, menyengat hatiku.
“Ya, tentu!”, jawabku dengan nada agak tinggi, namun masih dalam kendali kesabaran. “Kamu juga orang beriman kan?”
“Ya, pasti!”, jawabku dengan rasa dongkol di dalam hati, namun kedongkolan itu kubungkus rapat-rapat dengan daun-daun kesabaran dan ketabahan. “Kalau begitu, Kamu pasti yakin dan percaya kepada Alloh kan?” “Ya, otomatis,” jawabku dengan kedongkolan yang semakin sulit kututupi. “Apakah Kamu mencintai Alloh?”
“Sangat cinta!”, jawabku sambil berupaya keras untuk memegang teguh kesabaran dan kedewasaan berpikir. “Cinta yang keberapa yang Kamu berikan kepada Alloh?” Aku terdiam. Berpikir dalam-dalam, berintrospeksi. Aku sadar bahwa cinta yang seharusnya kupersembahkan kepada Alloh adalah cinta yang pertama dan utama. Aku juga sadar bahwa yang seharusnya menerima dan berhak atas segala penyerahanku hanyalah kepada Alloh. Dan, kini aku pun benar-benar paham mengapa dia menolak cinta pertamaku dan segala penyerahanku.
“Sudah paham?” tanyanya, mengejar. “Sudah,” jawabku, pendek, dan tanpa sedikit pun rasa dongkol. “Apakah Kamu masih tetap ingin menyerahkan cinta pertama Kamu kepadaku?” kejarnya.
“Tidak! Cinta pertama hanya pantas diberikan kepada Alloh,” jawabku.
Dia tersenyum tipis, yang kemudian perlahan-lahan senyum itu mengembang hingga menjadi sebuah tawa yang indah, bukan tawa yang terbahak-bahak. “Kalau begitu, cinta yang kupersembahkan kepadamu adalah cinta yang kedua, setelah cinta kepada Alloh,” lanjutku.
“Oh, jangan! Jangan! Jangan! Yang kedua pun aku belum berhak dan belum pantas menerimanya”. Aku kembali diam. Terpekur. Introspeksi lagi. Bertanya-tanya kepada hati sanubari, siapa gerangan yang paling berhak menerima cinta keduaku.
“Kamu percaya kepada utusan-utusan Alloh?” tanyanya, kemudian.
“Ya, saya percaya karena itu satu paket dengan percaya kepada Alloh,” jawabku.
“Kalau begitu, Sampean juga cinta kepada utusan Alloh yang paripurna?” lanjutnya. Lagi-lagi, aku terdiam, tersadar, dan terpekur. Aku tahu bahwa pertanyaan selanjutnya yang harus kujawab adalah “Cinta keberapa yang Kamu berikan kepada utusan Alloh yang paripurna itu?”
“Kok, nggak jawab, apa Kamu tidak cinta kepada utusan Alloh yang terakhir itu?” “Aku sangat mencintainya, dan karena itu, sekarang aku sadar bahwa cinta keduaku seharusnya untuk junjunganku itu,” jawabku.
“Kalau begitu, apakah Kamu akan memberikan cinta yang ketiga kepadaku?” kejarnya. Aku diam. Aku mencoba berpikir dalam-dalam. Aku yakin dia pasti akan menolak lagi jika itu kuutarakan. Pasti! “Aku benar-benar bodoh. Aku ingin tahu, cinta keberapa yang seharusnya kau inginkan dariku…??!” tanyaku.
“Yang keenam!” jawaban gadis itu, pendek.
“Lho, yang ketiga, keempat, dan kelima untuk siapa?” tanyaku, heran.
“Yang ketiga untuk jihad di jalan Alloh, yang keempat untuk Ibumu, dan yang kelima untuk Bapakmu,” jawabnya.
“Berarti, cinta yang kupersembahkan kepadamu harus merupakan sisa-sisa dari kelima cinta itu?” tanyaku.
“Cinta itu bukan benda padat, bukan benda cair, dan bukan pula benda gas. Cinta itu tidak akan pernah habis meski diberikan kepada siapa saja dalam kadar yang sangat besar sekalipun. Cinta juga bukan bilangan matematika. Cinta juga tidak bisa diukur atau dinilai dengan angka-angka dan persentase”. Aku hanya mengangguk-angguk mendengarkan petuah cintanya. Aku semakin menyadari kebodohanku selama ini, terutama tentang cinta yang benar.
“Selama ini sangat banyak orang yang salah menempatkan cinta. Cinta kepada sesuatu diletakkan di atas cinta kepada ibu-bapaknya, di atas cinta kepada jihad di jalan Tuhan, di atas cinta kepada utusan Tuhan, dan bahkan di atas cinta kepada Tuhan sendiri. Karena itu, berjuta-juta pelanggaran cinta pun terjadi dan terus-menerus selalu terjadi di mana pun, kapan pun, dan dalam situasi-kondisi bagaimanapun. Orang tidak segan-segan durhaka kepada ibu-bapaknya, keluar dari jalan Tuhan,
keluar dari ajaran rasul, dan bahkan berani menantang Tuhan hanya karena cintanya yang sangat tidak proporsional kepada harta, tahta, wanita, keluarga, saudara, kolega, penguasa, dan sebagainya,” tuturnya, jelas dan tandas.
Kini aku semakin paham dan jelas akan makna teologi cinta yang semestinya, senyatanya, dan sebenarnya. Aku pun sadar bahwa selama ini aku belum mengenal teologi cinta yang benar itu. Selama ini wawasan cintaku sangat sempit, dangkal, dan rendah. Seiring dengan kesadaran itu, sebuah pemikiran jernih yang bersemayam di dalam sanubariku yang suci seketika itu pun
kontan melayang-layang mengitari alam bebas nan luas.
“Kesalahan menempatkan cinta itulah, sebenarnya, yang merupakan sumber segala malapetaka, musibah, dan bencana yang menimpa manusia. Kesalahan penempatan cinta oleh para pembuat atau penentu kebijakan pasti melahirkan kebijakan atau keputusan yang salah, yang pasti akan menimbulkan malapetaka, musibah, bencana, kehancuran, dan kebinasaan bagi siapa dan apa saja yang berada di dalam kawasan berlakunya kebijakan atau keputusan itu.”
“Kesalahan penempatan cinta oleh para pembuat dan pelaksana kebijakan di bidang politik akan melahirkan kerusakan di bidang politik; kesalahan penempatan cinta oleh para pembuat dan pelaksana kebijakan di bidang hukum akan melahirkan kerusakan di bidang hukum; serta kesalahan penempatan cinta oleh para pembuat dan pelaksana kebijakan di bidang ekonomi akan melahirkan kerusakan di bidang ekonomi. Demikian pula kesalahan penempatan cinta oleh para pembuat dan pelaksana kebijakan di bidang-bidang lainnya Ðsosial, budaya, pertahanan-keamanan, lingkungan hidup, hak asasi manusia, dan sebagainya, pasti akan melahirkan kerusakan, kehancuran, dan kebinasaan bagi siapa dan apa saja yang berada dalam kawasan berlakunya kebijakan itu.”
Begitu pemikiran jernihku berhenti melayang-layang di alam bebas nan luas, aku pun merasa telah sampai di suatu titik kesadaran yang setinggi-tingginya. Tiba-tiba, dari dalam sanubariku tercetus ikrar kesetian kepada Tuhan, pencipta sekaligus pemilik kebenaran dan kebaikan hakiki dan sejati.
“Mulai saat ini, hamba-Mu yang lemah dan sering zalim ini akan selalu berupaya sekuat tenaga untuk menempatkan cinta kepada-Mu di tempat yang pertama, utama, dan tertinggi. Dan, hamba juga akan berusaha sekuat tenaga untuk senantiasa menempatkan cinta kepada selain Engkau di tempat yang sebenarnya dan semestinya.”
sumber : renungan & kisah inspiratif
Subscribe to:
Posts (Atom)
Posted by







